TUMBUH

Melihat tanaman-tanaman ini tumbuh, bermekaran dan segar, ada yang terasa segar juga di dalam diri saya. Hijaunya daun, warna-warni bunga, mengingatkan saya untuk terus tumbuh, berbunga dan berbuah bagi sekitar. Banyak yang menikmati pertumbuhan tanaman-tanaman ini. Kemarin kumbang datang kemari, beberapa hari lalu kupu-kupu. Saya pun selalu merasa segar setiap kali memandangnya. Setiap makhluk mendapatkan Rahmat dari pertumbuhannya.

Kita harus selalu tumbuh, tidak peduli seberapa lambatnya. Yang penting tetap bertumbuh. Tidak hanya dari sisi jasad, terutama adalah jiwa. Semakin matang, semakin dewasa, semakin bijak, semakin bisa memahami apa yang esensi dan yang bukan, semakin mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Kita harus selalu tumbuh.

Mungkin sesekali akan diserang hama, tapi tak apa-apa. Air pengetahuan, sinar matahari, nutrisi dari bumi, akan membantu untuk pulih kembali. Perjalanan jiwa juga mudah-mudahan begitu. Semakin hari semakin hijau, rimbun, berbunga dan berbuah. Mu’min itu seperti pohon, yang akarnya kuat menghunjam ke bumi, dahannya menjulang ke langit. Imannya teguh, amal shalihnya lurus niat dan penghadapannya.

Semoga bertumbuhnya tanaman menumbuhkan sifat Rahmaniyah-Nya dalam diri ini. Semoga semakin halus dan hijau yang ada di dalam sana. Amin ya Rabbal ‘alamin…

MENINGKATKAN EFEKTIVITAS TRAINING DENGAN TRANSFORMATIVE LEARNING

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh klien kami saat presentasi pitching adalah mengenai efektivitas dari training. Seberapa jauh training yang diberikan dapat mengubah kemampuan peserta, seberapa bisa diterapkan dalam pekerjaan mereka? Apakah training ini akan mengubah mindset mereka, dan lain sebagainya.

Berharap bahwa training mampu mengubah perilaku atau kemampuan seseorang dalam waktu singkat, tentu suatu hal yang kurang tepat. Efektivitas Training dalam pembelajaran hanya berkisar 10-30% tergantung desain dari training, kesiapan peserta dan dukungan dari lingkungan kerja. Namun, kita dapat mengoptimalkan efektivitas training dengan melibatkan beragam metode yang mendorong keterlibatan aktif dan memberikan pengalaman pada peserta. Hal lain yang dapat digunakan juga adalah mengadopsi teori transformative learning dalam proses pembelajaran.

 Apa itu Transformative Learning?

Transformative learning adalah sebuah teori pembelajaran yang menekankan proses transformasi perspektif individu melalui refleksi kritis, yang mengarah pada perubahan mendalam dalam pemahaman diri, keyakinan, dan perilaku. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Jack Mezirow pada tahun 1978 dan muncul dari kebutuhan untuk memahami bagaimana orang dewasa dapat mengubah pandangan dunia mereka melalui pengalaman dan refleksi.

Jika dilihat dari  pengertian dan latar belakangnya ini, maka yang membedakan pendekatan transformative learning dengan pendekatan adult learning lainnya adalah adanya proses refleksi kritis terhadap apa yang diyakini atau dilakukan selama ini. Dalam bertindak, individu sering kali memiliki asumsi dan keyakinan yang tidak dipertanyakan, yang membentuk cara mereka melihat dunia. Melalui refleksi kritis, individu dapat menantang dan merevisi asumsi ini, yang mengarah pada transformasi perspektif yang pada akhirnya akan mengarahkan perilaku.

Bagaimana proses transformative learning ini terjadi?

Berdasarkan teori transformative learning, individu akan mengalami beberapa tahapan dalam proses belajar sebelum akhirnya mengalami transformasi.

Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Disorienting Dilemma – Proses belajar ini diawali dengan suatu krisis atau tantangan yang  dialami oleh individu yang mengguncang/menggoyang keyakinan dan asumsi yang sudah diyakininya selama ini.
  2. Self-Examination – Individu yang mengalami ini kemudian melakukan refleksi diri terhadap perasaan dan emosi yang muncul akibat dilema tersebut.
  3. Critical Assessment of Assumptions – Lalu dia mulai mempertanyakan secara mendalam keyakinan, nilai, dan asumsi yang selama ini diyakini.
  4. Recognition that Others Have Similar Experiences – Tahapan selanjutnya, dia mulai menyadari bahwa orang lain juga pernah mengalami perubahan serupa.
  5. Exploration of New Roles and Actions – Di tahap ini dia mulai mempertimbangkan perspektif, perilaku, dan cara berpikir yang berbeda. Dia melihat pengalaman orang lain atau hal-hal yang dilakukan orang lain dalam menghadapi situasi  serupa dan terbuka terhadap perspektif lain.
  6. Planning a Course of Action – Berdasarkan refleksi dan juga pengetahuan baru yang diperolehnya, individu mulai merancang strategi untuk mengintegrasikan perspektif baru ke dalam kehidupan.
  7. Acquiring Knowledge and Skills – Lalu mulai mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menerapkan perspektif baru.
  8. Trying Out New Roles – Individu kemudian mencoba menerapkan cara berpikir dan berperilaku yang baru dalam kehidupan nyata.
  9. Building Competence and Confidence – Dia mulai mengembangkan rasa percaya diri dalam menerapkan perspektif yang baru ini.
  10. Reintegration into Life with a Transformed Perspective – Pada akhirnya sepenuhnya mengadopsi cara berpikir dan bertindak yang baru dalam kehidupan sehari-hari.

Jika melihat tahapan di atas, kita mungkin berpikir bahwa proses transformative learning ini berlangsung cukup panjang. Pertanyaannya, lalu bagaimana menerapkannya dalam training yang hanya berdurasi singkat?

Aplikasi Praktis dalam Pelatihan

Dalam konteks pelatihan, transformative learning dapat diterapkan untuk mendorong peserta mengevaluasi dan merevisi asumsi mereka, sehingga mencapai pemahaman yang lebih dalam dan perubahan perilaku yang positif. Dalam hal ini, fasilitator perlu merancang aktivitas yang memungkinkan terjadinya proses refleksi kritis dan juga proses berbagi pengetahuan satu sama lain untuk mendorong terjadinya transformasi berpikir.

Beberapa strategi yang dapat digunakan meliputi:

  • Studi Kasus: Menyajikan situasi nyata yang menantang asumsi peserta. Peserta dapat diberikan situasi yang berbeda dengan keyakinannya saat ini atau mempertanyakan keyakinannya saat ini. Studi kasus yang diberikan mendorong proses berpikir kritis dan refleksi terhadap asumsi atau tindakan yang sudah dilakukan selama ini.
  • Refleksi Diri: Mendorong peserta untuk merenungkan pengalaman dan keyakinan mereka. Kita dapat mengajak peserta untuk melihat dampak dari tindakannya selama ini dan atas dasar apa mereka melakukannya? Apakah selama ini berhasil? Adakah cara lain yang dapat memberikan hasil yang lebih optimal? Kita juga dapat menyajikan data atau fakta tentang dampak dari tindakan yang diambil selama ini, jika memungkinkan.
  • Diskusi Kelompok: Memfasilitasi dialog untuk mengeksplorasi perspektif berbeda. Dengan adanya guncangan terhadap keyakinannya, peserta diberikan kesempatan berdiskusi mengenai cara-cara baru, perspektif baru atau keyakinan baru yang membantu mereka menghadapi situasi mereka. Cara-cara baru ini bisa jadi lebih efektif dibandingkan dengan cara yang digunakan sebelumnya.
  • Simulasi dan Role-Play: Jika keyakinan baru sudah didapat, peserta perlu dibekali keterampilan baru yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Fasilitator perlu memberikan kesempatan untuk mencoba peran atau keterampilan baru tersebut lewat simulasi atau role-play.

Penting bagi fasilitator untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, di mana peserta merasa nyaman untuk berbagi dan menantang asumsi mereka. Dengan demikian, transformative learning dapat menjadi alat yang efektif dalam pelatihan untuk mendorong perubahan yang mendalam dan berkelanjutan. Menggabungkan pendekatan experiential learning dan transformative learning akan sangat powerful membantu peserta belajar untuk lebih memahami keterampilan baru yang akan bertahan dalam jangka panjang.

Contoh Praktis Penerapan Teori Transformative Learning

Sebagai contoh, bayangkan kita sedang merancang training komunikasi yang bertujuan mengajarkan peserta untuk berkomunikasi secara asertif dan menjadi pendengar yang baik. Selama ini, komunikasi di lingkungan kerja cenderung satu arah, di mana atasan lebih banyak memberikan masukan, sementara bawahan cenderung pasif. Peserta dalam training ini adalah suatu unit di perusahaan yang terdiri dari manajer dan staf.

  1. Disorienting Dilemma: Peserta diberikan simulasi interaksi dengan komunikasi satu arah, di mana mereka merasakan langsung tantangan komunikasi yang tidak efektif.
  2. Self-Examination & Critical Assessment: Mereka kemudian diminta merefleksikan pengalaman tersebut, mengidentifikasi masalah, dan menilai asumsi mereka tentang komunikasi yang efektif. Pada tahap ini mereka juga dapat diberikan lembar self assesment untuk menilai sejauh mana mereka sudah bersikap assertif selama ini. Peserta diminta untuk bersikap jujur dan menilai diri apa adanya.
  3. Exploration & Planning: Peserta diberikan kesempatan berbagi hasil self assesment mereka dan apa yang mereka rasakan setelah melihat hasilnya. Apakah mereka setuju atau merasa ada yang berbeda? Fasilitator dapat mengeksplorasi juga latar belakang peserta kurang bersikap assertif selama ini, tentang kekhawatiran mereka dan apa yang mereka harapkan. Di tahap ini fasilitator harus berhati-hati memandu diskusi refleksi yang dilakukan agar tidak ada yang merasa disudutkan. Tekankan bahwa diskusi ini perlu agar kita dapat memahami perspektif satu sama lain dan memperbaiki keadaan. Diskusi kelompok digunakan untuk mengeksplorasi strategi komunikasi asertif yang lebih efektif.
  4. Acquiring Knowledge & Trying Out New Roles: Peserta diberikan teori serta praktik melalui role-play untuk mencoba komunikasi asertif. Peserta dapat didebrief juga apa yang mereka rasakan saat mempraktikan ini dan tantangan yang akan mereka hadapi saat mempraktikkannya. Arahkan diskusi untuk mendukung satu sama lain.
  5. Building Confidence & Reintegration: Peserta diberikan kesempatan untuk menerapkan keterampilan baru dalam skenario dunia nyata dan berbagi pengalaman mereka. Bagian terakhir ini membutuhkan dukungan dari perusahaan. Fasilitator dapat mendorong peserta membuat action plan terukur untuk menerapkan keterampilan baru, misal berani mengemukakan pendapat saat meeting pagi.

Contoh di atas menggabungkan pendekatan transformative learning dan experiential learning, dimana selain melakukan refleksi, peserta juga diberikan pengalaman untuk merasakan keterampilan baru dengan pengalaman langsung. Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru tetapi juga mengalami perubahan pola pikir yang lebih dalam terkait komunikasi efektif di tempat kerja.

KOMUNIKASI ASERTIF

Beberapa pekan yang lalu saya sempat melakukan sesi Q&A terkait komunikasi asertif dalam berbagai konteks. Sesi Q&A ini merupakan lanjutan dari sesi sharing tentang komunikasi asertif yang diadakan oleh Komunitas Kabima sebelumnya. Sharing ini membahas tentang pengertian komunikasi asertif, teknik komunikasi asertif dan manfaat komunikasi asertif secara umum. Sesi sharing ini dihadiri lebih dari 300 peserta secara online dari seluruh Indonesia. Karena banyak sekali pertanyaan yang masuk, akhirnya sesi Q&A ini pun dibuka.

Berikut link video yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Beberapa di antaranya membahas kembali tentang apa itu komunikasi asertif, ciri komunikasi asertif dan contoh cara melakukannya dalam berbagai bentuk hubungan dan situasi. Semoga membantu meningkatkan skill komunikasi kita.

Selamat menonton.

TANGGUNG JAWAB

Beberapa hari ini kami dibingungkan oleh pakaian-pakaian kami yang dihilangkan oleh pihak laundry. Saya memang menggunakan jasa laundry kilo untuk meringankan pekerjaan domestik sehari-hari. Minggu lalu, ketika saya menghitung jumlah pakaian yang dikembalikan, saya agak kaget karena selisihnya hingga 10 potong pakaian. Saya juga tidak tahu persis apa saja, karena masih harus mengecek satu persatu pakaian yang ada, dan itu membutuhkan waktu tersendiri.

Pihak laundry sendiri menunjukkan itikad yang sangat baik saat saya melaporkan tentang jumlah pakaian yang tidak sesuai ini. Mereka bersedia mengecek ulang dan bahkan menawarkan untuk mengganti pakaian yang hilang dengan uang. Saya sendiri masih berharap pakaian-pakaian tersebut kembali, karena sejujurnya tidak tega membayangkan gaji karyawan-karyawan ini akan dipotong untuk ganti rugi.

Saya memutuskan untuk menunggu saja dan meminta pihak laundry untuk mengecek kembali. Saya agak yakin pakaian-pakaian tersebut terselip di suatu tempat, atau salah memberikan kantong pada customer lain karena jumlahnya cukup banyak. Tidak mungkin rasanya 10 potong pakaian terselip di antara pakaian lain customer. Kemungkinan mereka salah memberikan kantong laundry kepada orang lain.

Hari ini saya mendapatkan kabar bahwa pakaian-pakaian tersebut berhasil ditemukan. Alhamdulillah, utuh dan lengkap. Pihak laundry sepertinya berusaha dengan keras memperbaiki kesalahannya. Hal ini menimbulkan perasaan respek pada diri saya, karena sikap mereka yang tidak defensif dan bersedia bertanggung jawab atas kesalahannya.

Singkat cerita pakaian-pakaian ini akan diantarkan kembali hari ini. Saat anak saya bertanya apakah kami akan menitipkan cucian kami kembali pada mereka? Saya menjawab ‘iya, tentu saja. Kita harus menghargai sikap bertanggung jawab mereka. Orang bisa saja melakukan kesalahan, namun bagaimana mereka berusaha memperbaikinya, itu yang paling penting.’ Berbuat salah itu wajar, siapa sih yang bebas dari kesalahan. Menunjukkan tanggung jawab dengan tidak defensif menyalahkan customer (saya pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya dan balik disalahkan), bahkan bersedia mengganti, benar-benar suatu sikap yang harus dihargai.

Tiba-tiba saya merasa Allah pun mungkin demikian memandang kita ya. Saat kita melakukan kesalahan, Dia mungkin akan sangat mengerti. Jika kita saja bisa sangat menghargai sikap bertanggung jawab memperbaiki kesalahan, apalagi Dia Ta’ala yang Maha Pengampun. Selama kita sungguh-sungguh, insyaAllah Dia akan mengampuni. Pertanyaannya memang, seberapa sungguh-sungguh kita dalam memperbaiki diri?

-Sebuah catatan lama, saya share kembali. Semoga bermanfaat.-

INSPIRASI

(CATATAN 18 NOVEMBER 2022)

Kemarin hari yang sangat mengesankan bagi saya. Allah menghadirkan sebuah pelajaran langsung, bagaimana individu berkebutuhan khusus dapat berdaya maksimal, jika diberi kesempatan, di hari terakhir training yang saya ikuti.

Minggu ini sebenarnya merupakan minggu yang agak melelahkan. Setelah perjalanan panjang keluar kota, jadwal training padat dari Senin hingga Kamis. Puncaknya di hari terakhir, saya harus membuka training seorang diri dengan fisik yang sebenarnya sedang tidak fit.

Allah ternyata baik sekali. Pasca sesi pembukaan yang harus tetap semangat meskipun mulai kelelahan, saya memperhatikan ada yang menarik dari salah satu peserta. Saat berdiri lebih dekat, saya baru menyadari bahwa peserta ini sepertinya merupakan penyandang Cerebral Palsy. Butuh usaha lebih baginya untuk menyampaikan pendapatnya atau mengajukan pertanyaan, agar lebih mudah dipahami.

Namun disinilah luar biasanya, saya tidak melihat perasaan minder di diri peserta ini. Dia terlihat sangat antusias, meskipun materi presentasi pastilah bukan materi yang mudah bagi individu dengan keterbatasan gerak seperti ini.

Dia aktif bertanya, pertanyaan yang diajukan pun sangat baik. Dia juga berani praktik di depan kelas, ketika trainer meminta peserta melakukan mini praktik materi presentasi mereka.

Puncaknya pada penampilan akhir, peserta ini mengajukan diri untuk tampil, bersama 2 teman lainnya. Mereka berkompetisi menampilkan materi presentasi yang sudah dirancang, dengan sebaik-baiknya. Di akhir sesi, dia berhasil keluar sebagai pemenangnya. Sungguh luar biasa, untuk individu yang bahkan utk berbicara saja harus berusaha lebih keras dibanding orang lain.

Dia mampu memukau audiens dengan susunan kalimat yang baik dan juga materi yang sistematis. Materinya mudah dipahami dan pesan yang disampaikan mudah diingat, bahkan setelah presentasi berakhir. Buat saya, dia menjadi sumber inspirasi baru. Seorang individu berkebutuhan khusus dapat berkembang maksimal, jika kita memberinya kesempatan. Bahkan presentasinya bisa mengalahkan kita yang tidak memiliki keterbatasan. Betapa usaha keras dan keceriaannya mampu membuat dia tampil memukau orang lain.

Saya benar-benar terharu melihatnya. Semoga makin banyak perusahaan dan lingkungan di luar sana, memberikan kesempatan pada individu berkebutuhan khusus ini untuk berkembang. Terimakasih BTPN Syariah untuk pelajaran berharga akan kesetaraan, memberi kesempatan, bagi individu berkebutuhan khusus ini.

I am very proud of you.