CONCLAVE

Beberapa pekan lalu, saya dan keluarga berkesempatan menonton film Conclave. Film ini sebenarnya kami tonton secara tidak sengaja karena tidak bisa menonton film lain yang semula ingin kami tuju. Namun, ternyata saya pribadi mendapatkan banyak pembelajaran—bukan hanya tentang tradisi agama lain, tetapi juga nilai spiritualitas yang sifatnya universal.

Film dibuka dengan situasi pemilihan Pope (Paus), pimpinan tertinggi agama Katolik yang baru. Kematian Pope sebelumnya terkesan sangat mendadak dan misterius, tanpa penyebab yang terungkap hingga akhir film. Film ini berkisah tentang jalannya pemilihan yang berlangsung dalam suasana tertutup dan penuh ketegangan. Dengan latar belakang ini, adegan demi adegan dalam film terasa sangat intens dan mencekam.

Seluruh kardinal dari berbagai belahan dunia yang mengikuti pemilihan ini ‘diasingkan’ sementara selama proses berlangsung. Hal ini bertujuan agar pemilihan berjalan murni, tanpa intervensi pihak luar atau pengaruh situasi sosial politik global. Selain menggambarkan intrik politik dalam pemilihan, film ini juga menampilkan ketulusan, kebaikan hati, dan kemurnian niat—pesan utama yang saya rasakan dari film ini.

Kardinal Lawrence menjadi tokoh sentral dalam pemilihan ini. Ia mengemban amanah untuk memastikan pemilihan berlangsung bersih dan menghasilkan pemimpin terbaik sesuai kehendak Tuhan. Meskipun merasa dirinya bukan orang yang suci, kegigihan dan ketulusannya dalam menjalankan amanah begitu terasa hingga akhir film.

Kardinal Lawrence sendiri sebenarnya tidak berniat menjadi Pope, meskipun banyak kardinal lain mendukungnya. Di tengah pemilihan, ia sempat tergoda dan menuliskan namanya sendiri sebagai kandidat pilihannya. Keputusan ini bukan murni karena ambisinya, melainkan karena ia ingin menyelamatkan gereja dari kandidat lain yang berpaham liberal dan memiliki peluang besar untuk menang setelah kandidat kuat lainnya tersingkir.

Keputusannya ini seolah mendapat teguran dari Tuhan, ditandai dengan ledakan bom di sekitar lokasi pemilihan tepat saat ia memasukkan kertas suara berisi namanya.

Proses pemilihan ini diwarnai intrik politik yang cukup intens. Salah satu kandidat nyaris menghalalkan segala cara untuk menang, mulai dari membeli suara hingga membongkar ‘aib’ kandidat lain yang sebelumnya sangat kuat. Namun, akhirnya kandidat ini tersingkir berkat usaha keras Kardinal Lawrence dalam mengungkap kecurangannya. Kandidat lain juga tersingkir karena masa lalunya yang tersembunyi—ia ternyata memiliki anak dari seorang perempuan yang ia simpan.

Lobi-lobi politik juga tergambar sepanjang pemilihan, salah satunya melalui pertemuan intens antara tim sukses dan Kardinal Lawrence di koridor tempat para kardinal menginap. Tim sukses ini ingin memastikan bahwa mereka yang berpaham liberal—pendukung LGBTQ dan isu-isu sensitif lainnya—tidak menang dalam pemilihan. Awalnya, mereka memiliki kandidat sendiri, tetapi karena peluangnya kecil, mereka mengalihkan dukungan kepada Kardinal Lawrence demi ‘menyelamatkan’ gereja. Dukungan ini sempat menggoyahkan netralitas Kardinal Lawrence sebelum akhirnya ia merasa mendapat teguran dari Tuhan.

Alur cerita mencapai puncaknya saat terjadi pengeboman di sekitar lokasi pemilihan. Prasangka terhadap kelompok Muslim pun mencuat, sesuatu yang sangat wajar mengingat wajah Islam yang saat itu sering dikaitkan dengan kekerasan. Kelompok garis keras merasa mendapat pembenaran untuk mendukung kandidat yang membenci Muslim.

Namun kemudian, Kardinal Bernitez, yang sejak awal mendukung Kardinal Lawrence, angkat bicara. Pengalamannya di Afghanistan memberikan perspektif berbeda: musuh sejati bukanlah Muslim, melainkan kebencian yang ada di hati manusia. Pidato singkat dari kardinal yang sebelumnya tidak diperhitungkan ini berhasil menggugah para kardinal lain, hingga akhirnya ia terpilih sebagai Pope baru dengan kemenangan telak.

Film ini ditutup dengan plot twist mencengangkan—sebuah kebenaran baru terungkap tentang jati diri Kardinal terpilih. Ia ternyata seorang hermaphrodite yang belum menjalani operasi untuk menjadi laki-laki. Secara biologis, ia juga seorang perempuan.

Film ini sangat menarik dengan pesan mendalam. Ia mengajarkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya. Bahwa apa yang kita anggap benar belum tentu benar, dan apa yang kita anggap sebagai aib mungkin justru sesuatu yang direstui Tuhan, selama itu adalah pemberian-Nya. Kondisi Kardinal terpilih yang dianggap ‘cacat’ justru mengantarkannya ke posisi tertinggi ini, seolah Tuhan ingin menunjukkan bahwa apa yang tampak ‘cacat’ bagi manusia belum tentu buruk bagi-Nya. Dengan keterbatasan dan pengalamannya di daerah rawan konflik, Pope terpilih ini memiliki kebijaksanaan yang tidak dimiliki kandidat lain—kebijaksanaan yang sangat diperlukan untuk memimpin salah satu agama terbesar di dunia.

Film ini juga mengajarkan ketulusan hati dalam pengabdian kepada Tuhan. Mereka yang benar-benar tulus dalam mengabdi akan diselamatkan dari hal-hal yang tidak baik bagi dirinya. Pada akhirnya, kebenaran dan ketulusan akan menemukan jalan kembali kepada Tuhan, dan Dia Yang Maha Baik akan membimbing ke pilihan terbaik.

Buat saya pribadi film ini menegaskan kembali bahwa musuh kita bukanlah orang yang ber-Tuhan, namun mereka yang memperturutkan hawa nafsunya, bahkan dalam jubah agama. Lebih buruknya lagi, musuh kita seringkali adalah hawa nafsu sendiri yang seringkali kita ikuti.

TUMBUH

Melihat tanaman-tanaman ini tumbuh, bermekaran dan segar, ada yang terasa segar juga di dalam diri saya. Hijaunya daun, warna-warni bunga, mengingatkan saya untuk terus tumbuh, berbunga dan berbuah bagi sekitar. Banyak yang menikmati pertumbuhan tanaman-tanaman ini. Kemarin kumbang datang kemari, beberapa hari lalu kupu-kupu. Saya pun selalu merasa segar setiap kali memandangnya. Setiap makhluk mendapatkan Rahmat dari pertumbuhannya.

Kita harus selalu tumbuh, tidak peduli seberapa lambatnya. Yang penting tetap bertumbuh. Tidak hanya dari sisi jasad, terutama adalah jiwa. Semakin matang, semakin dewasa, semakin bijak, semakin bisa memahami apa yang esensi dan yang bukan, semakin mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Kita harus selalu tumbuh.

Mungkin sesekali akan diserang hama, tapi tak apa-apa. Air pengetahuan, sinar matahari, nutrisi dari bumi, akan membantu untuk pulih kembali. Perjalanan jiwa juga mudah-mudahan begitu. Semakin hari semakin hijau, rimbun, berbunga dan berbuah. Mu’min itu seperti pohon, yang akarnya kuat menghunjam ke bumi, dahannya menjulang ke langit. Imannya teguh, amal shalihnya lurus niat dan penghadapannya.

Semoga bertumbuhnya tanaman menumbuhkan sifat Rahmaniyah-Nya dalam diri ini. Semoga semakin halus dan hijau yang ada di dalam sana. Amin ya Rabbal ‘alamin…

IDE MAIN

Masih inget gak mainan spt ini jaman dulu? Bisa lho diterapkan di rumah pengisi waktu luang anak.

Cara mainnya mudah, dua org pemain secara bergiliran berusaha mengeluarkan koin pemain lawan dari garis batas.

Apa yg diajarkan dr permainan ini? Keterampilan motorik halus (menyentil, mengatur kekuatan sentilan 😊), keterampilan sosial (bergiliran, bersikap sportif jika kalah), dan juga strategi dgn mengatur kemana arah koin agar anak bisa menang.

Agar semakin tambah nilai plusnya, ibu/ayah bisa ikutan bermain. Kalau dlm video ini, saya sdg menunggu giliran saya utk bermain, menggantikan pemain yg kalah.

Pemain yg menang tiga kali berturut2 akan menjadi pemenang, dan mendapatkan hadiah…DIPIJAT selama satu menit oleh pemain lainnya 😂.

Dulu ini adalah salah satu momen seru bersama anak-anak. Silakan dicoba, semoga menginspirasi.

De Clan Kafe

Nemu tempat ini saat sedang muter di Depok menyelesaikan beberapa urusan. Tempatnya di pinggir jalan Tole Iskandar, sebelum Bella Casa kalau dr arah depok timur/tip top ke siliwangi/margonda. Saat sedang ngider, eh kelihatan lah tempat ini. Kebetulan lapar dan capek serta masih nunggu satu urusan lagi di depok yg baru bisa diberesin di atas jam 2, maka mampirlah ke sini.

Nama kafenya ‘De ‘Clan’, tempatnya cozy banget indoor maupun outdoornya. Areanya luas, dan di outdoor ada room-room kecil lagi yang bisa dibooking utk arisan, meeting dan sejenisnya sepertinya. Hal yang paling penting ada mushollanya yang juga nyaman. Mushollanya cukup luas juga, meskipun kalau sdg full mgkn harus ngantri jg. Toiletnya bersih dan ada fasilitas utk wudhu sendiri, yg gabung antara laki-laki dan perempuan.

Yang saya suka banyak pohon-pohon dan bunga-bunga di area outdoor, bikin suasana jadi asri. Ditambah lagi ada burung kakak tua dan ikan-ikan Koi yang menyenangkan utk dipandang. Bunga anggrek bertebaran dimana-mana, pokoknya bikin mata nyamanlah dan betah duduk lama-lama di sini.

Selama saya duduk menunggu di sini seorang diri (asikk), terdengar alunan lagu-lagu patah hati dari jaman 2000 awal sampe sekarang. Buat yang sedang merana, tampaknya kalau ke sini bawa teman ya, jangan sampai jadi duduk menangis tersedu sedan di pojokan terbawa suasana. Kasihan nanti waitressnya kebingungan lihat kamu 😄.

Buat saya sih ini resto dan kafe untuk segmen keluarga dan menengah ya. Jadi bawa anak ya silakan saja. Area parkir cukup luas juga di depan kafe. Kalau soal harga, ya masih standar harga kafe di Depok lah. Semangkok mie tek-tek dan es caffe latte harganya 67 ribu udah termasuk tax dan service sptnya. Kenapa pesan mie tek tek Put? Krn saat itu saya sedang gak doyan nasi. Entahlah ini penting banget utk disebut atau enggak, abaikan aja kalau gak penting 😆.

Saya rasa sih kalau mau ke sini jangan weekend, karena pasti rame, apalagi jalan raya tole iskandar itu lumayan macet kalau pas weekend.

Ya sekian laporan pandangan mata penting gak penting ini. Semoga bermanfaat utk mak-mak yg hobi ngumpul atau kabur sendiri sejenak kayak saya 😆.

KAFE KUCING

Beberapa tahun lalu kami berkesempatan main ke @bilikkucing cat cafe yang ada di Kukusan Depok. Bertemu dengan kucing-kucing lucu sambil menikmati hidangan yang terjangkau harganya.

Kafe ini terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk makan, lantai dua tempat para meong berdiam. Kita bisa makan juga di lantai dua, sambil bermain dengan kucing. Sebagian besar kucing-kucing ini adalah kucing yang ditemukan di jalan, lalu direscue dan bisa diadopsi jika ingin memelihara mereka.

Sejak kematian Simmy, dan saat saya tinggal di apartemen, kami sempat tidak memelihara kucing. Sehingga kafe ini bisa menjadi pengobat rindu bermain dengan kucing-kucing lucu. Saat ini kami punya kucing piaraan lagi, namun tidak banyak, sehingga tetap saja kafe ini layak dikunjungi jika ingin bermain dengan kucing-kucing dari beragam ras.

InsyaAllah jika ada kesempatan, kami akan kesini lagi.